Sunday, January 8, 2012

Sejumput salam bertengger di depan pintumu, menunggu untuk dipersilakan.
"Maaf," katanya lirih.
Mencoba menggapaimu, tapi terlampau jauh.
"Maaf," ujarnya terisak.
Beradu tatap dengan angin semilir, air matanya jatuh.
"Maaf, aku.. aku.."
...
pintumu masih tertutup.
"Kau pergi dan hilang kemanapun kau suka"

No comments:

Post a Comment