Sunday, November 25, 2012

Manis

"Apakah mereka terlalu manis?"

Mungkin sejak saat itu, kendaraan roda dua dengan dua pedal di sisi kanan kirinya bukan hanya sekedar penyegar kaki di pagi hari, teman semilir angin di pinggir sawah, atau rangka besi yang menyusuri jalan tapak.

Mereka lebih dari sekedar pelengkap rutinitas.
Mereka punya cerita,
di setiap kayuhnya.

Thursday, November 22, 2012

Diam

Sejak kapan kata "diam" jadi  lebih baik, lebih bermakna, lebih menyenangkan, lebih elegan?
Mari. Mari saya bantu.
Mungkin semenjak sang lawan memulai lebih dulu untuk memilih kata "diam".
Mungkin semenjak sang lawan mencari lawan yang lain.
Mungkin semenjak sang lawan menoleh dan pergi jauh meninggalkan.
Ia tak butuh lawan lagi.

Sejak kapan kata "diam" menjadi lebih buruk, lebih menyebalkan, lebih pengecut, lebih payah?
Mari. Mari saya bantu.
Mungkin semenjak sang lawan sudah menarikmu tapi kau lepas paksa.
Mungkin semenjak sang lawan mengirimkan pukulan dan ditepis.
Mungkin semenjak kau.. tahu.
Dan tetap diam.

Diam pun kembali berlari-lari dalam kerongkongan.
Entah bahagia telah dipekerjakan kembali, entah sedih karena tak bisa ikut bersama angin.
Jangan. Jangan tanya.

Perlahan, mengelus diam itu menenangkan.
Tak banyak berontak. Bahkan tak ada berontak sama sekali.
Tapi.. Jangan salahkan kalau diam itu bohong.
Diam tak sepenuhnya diam.
Ia bisa menangis di pojok ruangan terkena sinar terang matahari.
Ia bisa terantuk lalu jatuh meringis.
Tergantung bagaimana kau lakukan pada diam.

Dan saat diam menggandeng windu, rasanya.. bayangkan sendiri.
Tanyakan langsung.


"Apa kau baik-baik saja Diam?"

Monday, November 19, 2012

2005

perasaan ini keluar lagi.
menangis tak keruan.
dan tak terdengar oleh daun telinga.
tapi tangisan dalam organ tak terlihat.
dan meninggalkan bekas yang tak terbayang.
tapi amat terasa..

membuat kotor organ tak terlihat,
seharusnya tidak dilakukan.
tapi maafkan,
yang menangis pun tidak mengerti.
hanya bisa terus menangis.

terdiam.

lalu menangis lagi.
kencang.


sudah kubilang, tak usah.
tapi tetap muncul.
dan beginilah jadinya.
selamat menikmati.

dan sudah lebih dari tujuh kali kami mengitari mentari.
dan muncul hilang berganti sesuka hati.
rasanya anak kunci yang sudah dibuang ingin diberikan padanya.
lalu buka pintu ini, untuknya.

terdiam.

lalu menangis lagi.
kencang.