Thursday, November 22, 2012

Diam

Sejak kapan kata "diam" jadi  lebih baik, lebih bermakna, lebih menyenangkan, lebih elegan?
Mari. Mari saya bantu.
Mungkin semenjak sang lawan memulai lebih dulu untuk memilih kata "diam".
Mungkin semenjak sang lawan mencari lawan yang lain.
Mungkin semenjak sang lawan menoleh dan pergi jauh meninggalkan.
Ia tak butuh lawan lagi.

Sejak kapan kata "diam" menjadi lebih buruk, lebih menyebalkan, lebih pengecut, lebih payah?
Mari. Mari saya bantu.
Mungkin semenjak sang lawan sudah menarikmu tapi kau lepas paksa.
Mungkin semenjak sang lawan mengirimkan pukulan dan ditepis.
Mungkin semenjak kau.. tahu.
Dan tetap diam.

Diam pun kembali berlari-lari dalam kerongkongan.
Entah bahagia telah dipekerjakan kembali, entah sedih karena tak bisa ikut bersama angin.
Jangan. Jangan tanya.

Perlahan, mengelus diam itu menenangkan.
Tak banyak berontak. Bahkan tak ada berontak sama sekali.
Tapi.. Jangan salahkan kalau diam itu bohong.
Diam tak sepenuhnya diam.
Ia bisa menangis di pojok ruangan terkena sinar terang matahari.
Ia bisa terantuk lalu jatuh meringis.
Tergantung bagaimana kau lakukan pada diam.

Dan saat diam menggandeng windu, rasanya.. bayangkan sendiri.
Tanyakan langsung.


"Apa kau baik-baik saja Diam?"

No comments:

Post a Comment