Sunday, April 22, 2012

Jawaban Tidak


Kau, masih belum mendengar suaraku? Menggaung di antara rongga kerongkongan. Bernyanyi di ujung saraf pusat. Aku hampir berhenti menyalakan detak waktu untuk menunggumu dalam ketidakpastian, yang membuat lelah seluruhnya.
Apakah kau juga menungguku? Kemudian kita berada dalam keletihan tak berarti. Penantian itu membosankan, kau tahu? Aku masih harus menunggu berapa lama lagi?

Terima kasih untuk kepastian sehingga tak ada lagi kata tunggu yang hadir menghampiri.
Terima kasih untuk jawaban "tidak" pada setiap kata tanya yang diajukan.


*ah, menye-menye sekali sih*

Tuesday, April 17, 2012

?

lalu, katakan aku harus bagaimana.
jangan kau pergi begitu saja, tinggalkan ini.


tahukah kau rasanya menahan sakit ini sendiri?
sendiri.
dan sebegitu cepatnya.


lalu, katakan aku harus bagaimana.
agar tidak ada lagi yang menetes dari kedua mata.
dan sesak yang menimpa.


harus bagaimana?

Sunday, April 15, 2012

Konklusi




pada akhirnya, wish number 32 tidak dapat terlaksana. sang oknum pun perlahan mundur sebelum saya sempat  mengatakannya.

lalu salah siapa?

ah, bukan salah siapa-siapa.
saya mungkin salah tidak langsung mengatakannya, tapi saya pikir memang belum saat yang tepat untuk mengatakannya. toh kalau mengatakannya yang lalu, ataupun sekarang, akankah lebih baik daripada tidak mengatakannya? saya pun tidak yakin. saya lebih suka untuk berdiam dalam rahasia yang saya simpan sendiri.
dengan Allah, cuma dengan Dia, saya berbagi.

sang oknum juga tentu tidak bersalah. dia tidak tahu apa-apa. saya sangat mengerti bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa membaca pikiran manusia lainnya. yang ada, mungkin membaca tingkah laku manusia yang ada. dan saya, terlalu menutupi tingkah laku saya. jadi, mana mungkin sang oknum bisa membaca?
sungguh, saya tidak menyalahkan dia.

menyakitkan?
mungkin.
sangat.

mungkin saya sempat merumuskan sebuah konklusi, begini:
salah satu cara agar manusia itu tahu tentang berbagai hal adalah: mencoba. tapi ternyata mencoba pun tidak bisa diaplikasikan ke berbagai hal. mungkin saya sempat menghakimi sang oknum mencoba di hal yang salah. yang akhirnya meninggalkan bekas yang mendalam, sakit, membuat berbagai coretan semakin jelas warna pekatnya. begitu. jadi saran saya sih, trial and error itu jangan jadikan makanan sehari-hari. sekali-sekali pun sebaiknya hindari. apalagi kalau ilmunya belum tahu betul.

akhirnya, satu kalimat yang ingin saya sampaikan:

"terkadang, tidak semua hal bisa dikomunikasikan"