Monday, September 23, 2013

Classic

Okay, we're going right to the point.

Salah satu hal yang menyenangkan menjadi manusia adalah mengalami apa yang dinamakan jatuh cinta. Mengapa namanya jatuh? Mengapa tidak naik cinta? Mengapa tidak lainnya? Yes. Ini persoalan lama yang jika mengalaminya sungguh tak ada habisnya dan tak masalah jika dibahas terus menerus. Berbeda dengan pengalaman sebaliknya. Dengar kata cinta pun terasa muak.

Lanjut.

Jatuh mungkin bisa diartikan sebagai pasrah, lepas. Sehelai daun yang jatuh dari tangkainya, pasrah jatuh ke tanah, pasrah atas gravitasi yang menariknya. Jatuh itu bisa dibilang pasif. Menerima.
Jatuh cinta begitukah? Pasrah seperti terombang-ambing perasaan. Rasanya seperti terangkat jauh ke atas. Tapi nyatanya jatuh ke dalam lubang.

Jatuh.
Cinta.

Klasik. Membunuh perlahan.

fin.

Thursday, July 25, 2013

Pemantik

In repeat: Sheila on 7 - Hingga Ujung Waktu

"Bahayanya jadi perempuan, sekali hatinya terpantik, sekecil apapun, efeknya lama-lama akan besar dan bertahan dalam jangka waktu panjang. Hatimu, harimaumu. Tanggung sendiri akibatnya."

Tadinya saya kira, orang yang baru datang itu akan membuat saya semakin netral dan obyektif dalam berpikir. Karena mungkin tujuannya sudah jelas, terukur, dan ada.
Tapi mungkin dasar perempuan yang tak bisa sekalipun terpantik hatinya karena membahayakan, saya jadi kena akibatnya. Atau memang saya yang terlalu sensitif akan hal itu?
Rasanya terus terpikirkan apa yang belum halal dan mencoba meluruskan pikiran tetapi selalu gagal dan hingga sesak rasanya, mungkin ini sama saja seperti masa-masa bodoh jaman lalu.

Ah bahkan dia di sana berusaha menjaga. Apa mungkin saya dengan enaknya mengotori? Rasanya tidak adil.

Jikalau ingin memilih, bolehkah saya ambil pisau dan menancapkan dalam-dalam ke jantung hingga mati rasa? Rasanya saya tak pantas.

Friday, May 3, 2013

Rindu

kutitipkan asa hingga pulang | kubawa rindu ke tanah seberang

memang tiada cukup waktu bersama untuk dikenang | kutinggalkan semua dalam pengawasan Allah lalu bertenang

kurisaukan angin yang kelak membawaku pergi darimu | dan jaraklah yang bertanggung jawab atas
rasa rindu

bila engkau rindukan aku jangan dengan airmata | cukup dengan sujud pada Tuhan-mu dan berdoa


~ Ustadz Felix Siauw