Pagi itu pengajian ahad seperti biasa. Saya dan mama duduk bersebelahan mendengarkan ceramah, sesekali berbincang, sesekali berceloteh tentang bocah-bocah balita yang berseliweran di sekitaran masjid yang lucunya minta disqueeze pipinya, juga sesekali menanggapi isi ceramah sang ustadz. Sama seperti biasa kami seperti itu.
Tapi tidak biasa.
Pernah tahu rasanya mengetahui orangtua sakit?
Pernah tahu rasanya mereka terbaring lemah di tempat tidur? Lalu kita pun bingung harus apa?
Ngga sih, waktu itu saya ngga ngerasa seperti itu. Hanya saja, secara ngga sengaja, saya menemukan sedikit garis warna putih di iris mata mama saya. Waktu saya tanya,
“Ma, itu apa warna putih-putih di mata?”
Mama Cuma menjawab,
“Apaan? Katarak? Hahahaa. Biasalah, udah tua. Mata tua.”
Seketika itu juga saya pun sadar. Memang ibu saya yang saya sangat sayang sekali ini sudah tua. Dan saya pun sadar sudah selama itu juga saya sama sekali belum berbuat apa-apa untuk mama. Saya bisa apa? Toh saya juga masih selalu merepotkan.
Mama yang setiap saya dapat honor hasil kerja selalu menolak mendapatkan “jatah”. Lalu berkata
“Udahlah, kamu simpen aja buat jajanmu sendiri”.
Saya masih ingat rasanya pertama kali memeluk mama dan menangis kencang-kencang.
Saya masih ingat rasanya pertama kali meminta maaf ke mama dengan air mata yang bercucuran deras, tapi mama cuma bilang “Yaudahlah, ngga papa kok”.
Saya juga akan selalu ingat rasanya dari pagi hingga pagi lagi hingga tak ada henti, menunggu saya yang sakit, demam, di sebelah, mengganti kompres, membawa teh hangat, nasi dan lauknya, juga merasakan pijitan lembut tangannya di kepala saya.
---
Di Jatinangor. Saya yang masih khawatir, akhirnya telepon mama. Menanyakan kabar.
“Ma, itu matanya ngga papa? Ngga diperiksain aja?”
“Ha? Oh, gapapaa. Gampang ini mah, nanti aja haha. Eh, tadi bude bawain black forest gede banget lho. Sayang banget kamu udah di Nangor. Hahaa”
Dan beliau masih berusaha menganggap hal tersebut sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Membuat saya beralih ke hal lain yang lebih menyenangkan. Ah, mama..
Terbayang satu wajah
penuh cinta penuh kasih
terbayang satu wajah
penuh dengan kehangatan
penuh cinta penuh kasih
terbayang satu wajah
penuh dengan kehangatan
No comments:
Post a Comment