Tuesday, June 26, 2012

Surat Sapaan

Halo, apa kabar kamu?
Sudah lama tidak berbincang santai seperti ini.
Bagaimana kehidupanmu? Baik-baik sajakah?
Masih berusaha berjuang sekuat tenaga untuk merangkai semua pemikiran idealismu?
Selamat bersemangat kalau begitu :)


Bagaimana keadaan keluarga? Sehat wal'afiyat?
Semoga mereka semua diberikan segala keberkahan hidup dan menuju tujuan yang paling hakiki nantinya. Aamiin. Doa yang sama untukmu juga.


Bagaimana dengan pasangan? Haha.
Jangan tertawa aku tanyakan seperti ini.
Mau sekuat apapun kamu mengelak, pada akhirnya kamu akan bertemu juga.
Ya, ya, ya. Baaguslah kalau kamu memang tidak berpikiran terlalu serius untuk yang satu ini.
Oh ya? Meminta yang lebih oke? Haha, terserah kamu lah nak.
Lempar saja semua ingatan yang dahulu lapuk itu, bosan kan?


Hmm, lalu, bagaimana hubungan kamu dengan Tuhanmu?
Masih ada komunikasi? Atau... Hehehe ada apa kamu senyum-senyum begitu?
Jadi, kamu biarkan beberapa missed calls.. setiap h-h-hari??
Ah, pantaslah keadaanmu jadi memburuk.
Jangan mengelak.
Iya, itu karena Dia masih sangat menyayangimu makanya kamu masih bisa bertahan sampai sekarang.
Sudahlah, angkat saja panggilanNya di pertiga malam.
Sekali-sekali lah, kalau pun sulit di tiap malam.
Mau janji padaku? Janji ya.. :)


Ah, lain kali kamu harus membalas segala pertanyaanku di sini.
Kangenku sungguh membuncah nih! hahaha.
Oke lah. Lain kali akan aku sambung lagi.


Salam,
Aku.

Thursday, June 7, 2012

Terlupakan


Pagi itu pengajian ahad seperti biasa. Saya dan mama duduk bersebelahan mendengarkan ceramah, sesekali berbincang, sesekali berceloteh tentang bocah-bocah balita yang berseliweran di sekitaran masjid yang lucunya minta disqueeze pipinya, juga sesekali menanggapi isi ceramah sang ustadz. Sama seperti biasa kami seperti itu.

Tapi tidak biasa.

Pernah tahu rasanya mengetahui orangtua sakit?

Pernah tahu rasanya mereka terbaring lemah di tempat tidur? Lalu kita pun bingung harus apa?

Ngga sih, waktu itu saya ngga ngerasa seperti itu. Hanya saja, secara ngga sengaja, saya menemukan sedikit garis warna putih di iris mata mama saya. Waktu saya tanya,

“Ma, itu apa warna putih-putih di mata?”

Mama Cuma menjawab,

“Apaan? Katarak? Hahahaa. Biasalah, udah tua. Mata tua.”

Seketika itu juga saya pun sadar. Memang ibu saya yang saya sangat sayang sekali ini sudah tua. Dan saya pun sadar sudah selama itu juga saya sama sekali belum berbuat apa-apa untuk mama. Saya bisa apa? Toh saya juga masih selalu merepotkan.

Mama yang setiap saya dapat honor hasil kerja selalu menolak mendapatkan “jatah”. Lalu berkata 
“Udahlah, kamu simpen aja buat jajanmu sendiri”.

Saya masih ingat rasanya pertama kali memeluk mama dan menangis kencang-kencang.

Saya masih ingat rasanya pertama kali meminta maaf ke mama dengan air mata yang bercucuran deras, tapi mama cuma bilang “Yaudahlah, ngga papa kok”.

Saya juga akan selalu ingat rasanya dari pagi hingga pagi lagi hingga tak ada henti, menunggu saya yang sakit, demam, di sebelah, mengganti kompres, membawa teh hangat, nasi dan lauknya, juga merasakan pijitan lembut tangannya di kepala saya.

---

Di Jatinangor. Saya yang masih khawatir, akhirnya telepon mama. Menanyakan kabar.

“Ma, itu matanya ngga papa? Ngga diperiksain aja?”

“Ha? Oh, gapapaa. Gampang ini mah, nanti aja haha. Eh, tadi bude bawain black forest gede banget lho. Sayang banget kamu udah di Nangor. Hahaa”

Dan beliau masih berusaha menganggap hal tersebut sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Membuat saya beralih ke hal lain yang lebih menyenangkan. Ah, mama..

Terbayang satu wajah
penuh cinta penuh kasih
terbayang satu wajah
penuh dengan kehangatan

Wednesday, May 30, 2012

WOAH!


Beberapa hari ini, dengan sangat tidak keren, menghabiskan banyak waktu terbuang begitu saja. Main internet, bengong, tidur, makan. Padahal kerjaan seabrek, setumpuk, meluap hingga luber tanpa ada yang selesai dikerjakan. Rasanya kepala ini mau tumpah isinya. Dan benar, akibatnya, perasaan tidak karuan, air mata yang beberapa tetes keluar begitu saja di depan orang banyak tanpa persiapan, serta mister vertigo datang yang lagi… hingga sekarang. Huuhooy! Selamaat eeeaap!

Lalu kembali lagi hari-hari ngefly bagaikan orang tanpa pijakan dan berasa punya sayap yang tak tampak. Akhirnya dengan keputusan amat sangat enteng, saya lepaskan segala beban dan mulai tidur jam delapan malam. Rencananya sih bangun sekitaran jam tiga biar bisa ngerjain revisi skripsi. Sukur-sukur bisa membuka obrolan intim yang sudah sangat lama tidak saya lakukan. Tapi ternyata bisikan setan sangat kuat dan saya pun bangun di jam lima subuh setelah beberapa kali men-snooze alarm handphone, gonta ganti posisi tidur, bangun karena panggilan “Naaay, sholaat jamaah yuuk” tapi tertidur lagi.  Ini rekor tidur terlama. Sembilan jam. Prook! Prok! Prok!

Inilah hari ini, dengan energi dari tidur yang berlebih, saya pun memulai revisi skripsi dengan cukup lancar namun masih sempat fly. Yihii~. Kebut! Hingga sampai pada buat janji bimbingan dengan dosen. Dan saya pun bimbingan yang tidak biasa, di dalam mobil dosen pembimbing, menuju rumah tahanan kelas 1 di Sukamiskin, Bandung. Eeaa. Sebenarnya ini adalah kunjungan untuk mata kuliah Patologi Sosial, tapi karena saya butuh sekali bimbingan hari ini, dan dosen pembimbing saya menawari saya untuk ikut, ya saya ikut saja. Lumayan, mehehehe. Dan hari ini, satu “unlimited wish” saya bisa dicoret lagi! BERKUNJUNG KE PENJARA. Yaa meskipun Cuma sebentar dan ngga terlalu masuk ke dalam-dalam, tapi yaa lumayan lah ya.
Selanjutnya, saya mengunjungi seminar penelitian kualitatif di kampus. Isinya dosen dan mahasiswa tingkat akhir yang galau skripsi. Setelah ikut seminar, saya pun makin galau mau pakai metode kualitatif atau ngga. Tapi kata hati saya mengatakan pakai. Tapi keinginan saya mengatakan, ia bingung. Saya tanyakan pada draf skripsi saya, ia pun bingung. Baiklah. Tapi paling tidak, kebingungan saya membuat saya jadi lebih pengen baca-baca lagi tentang metode ngejelimet yang satu ini *mudah-mudahan jadi baca nanti*.

Lalu secara tak disangka saya juga bertemu dengan Nunuy, teman satu angkatan yang sudah hamil tiga bulan. Dia cerita, katanya kalau dengar di perutnya, akan ada suara. Suara detak jantung! Dengan antusias dia juga cerita waktu usg anggota badan bayinya sudah cukup terlihat. Aaaaah luucunyaaa. Berbeda dengan dengar perut saya, isinya bunyi keroncongan selalu minta makan. Memalukan!

Dan terakhir tadi, dengan sangat yahui, akhirnya menyelesaikan rekap laporan dan membuat slide di prezi.com untuk presentasi manajemen jumat besok. Rencana saya untuk tidur jam delapan malam lagi, gagal sudah. Tapi setidaknya, banyak hal yang satu persatu lepas dan terasa enteng! Meskipun rasa fly masih menghinggapi kepala, dan saya pun akan menjalani CT-scan wiken ini. Semoga tidak ada yang aneh-aneh terjadi. Lagi-lagi, saya benar-benar harus menjalani hidup sehat kembali.

Dan untuk segala hal menakjubkan yang sudah terjadi, dan yang akan terjadi, Alhamdulillahirabbil’alamin wasyukurillah. Terima kasih banyak ya Allah :)




Pesan malam ini, selamat malam Joong Ki! :D *hahahaha*