Sunday, February 12, 2012
Pagi Biasa yang Tak Biasa
Pagi ini seperti biasa. Saya mengambil sepeda dan menuntunnya keluar rumah. Memang beberapa hari ini saya melewatkan pagi tanpa berolahraga santai seperti biasa. Dan sekaranglah saatnya saya kembali membawa sepeda ukuran 24 ini berkeliling sekitar lingkungan rumah. Begitu saya membuka pintu, hawa yang tak biasa terasa di lapisan ari tubuh. Sejuk luar biasa. Ini tak biasa. mungkin akibat hujan tadi malam yang meneduhkan Jakarta. Hal itu juga membuat saya semakin bersemangat menuntun sepeda keluar rumah. Waktunya menikmati Jakarta yang tak biasa!
Saya mengayuh sepeda perlahan, menyetelnya dalam kecepatan rantai gigi 3. Biasanya di nomor 4 hingga 6, tapi biarlah saya nikmati saja kesejukan Jakarta yang jarang muncul ini. Rute perjalanan saya tempuh seperti biasa, melewati persawahan di pemukiman sebelah sana. Iya, meskipun ini Jakarta, ibukota dengan segala kemewahannya, kau juga masih dapat menemukan secuil pemandangan sawah padi minus orang-orangan sawahnya. Yang ada, mereka menggunakan kaleng-kaleng bekas dan digantung di tiang-tiang yang ditancapkan pada tanah-tanah sawah, kemudian dihubungkan dengan tali. Dengan satu gerakan menggoyangkan tali tersebut, maka kaleng-kaleng akan bergemerincing dari ujung ke ujung sawah yang lain, mengagetkan burung-burung yang sedang hinggap. Menarik.
Sambil terus mengayuh sepeda, saya juga melihat para pedagang sayur yang mulai menjajakan barangnya di pinggir jalan. Beberapa warga juga sudah mulai bertransaksi, membeli, atau bahkan sekedar berbincang dengan tetangganya. Ini biasa terjadi. Seorang kakek juga terlihat sedang duduk, berbicara bahasa Jawa, dan beberapa orang lebih muda berdiri di sekitarnya, seperti sedang mendengarkan cerita, atau mungkin mereka sedang membahas suatu yang menarik, seperti pagi biasanya.
Satu hal yang tak biasa saya temukan pagi ini. Sebutlah namanya Ibu X, saya memang benar-benar tidak tahu namanya. Saya biasa melihatnya di pinggir jalan, duduk dengan bungkusan plastik hitam di sebelahnya, terkadang sambil memakan sesuatu, atau meminum air mineral. Begitu setiap hari. Kalau menurut orang awam ia biasa disebut 'orang gila', tapi saya tak ingin menyebutnya demikian. Dengan segala hal abnormal yang ada padanya dibandingkan orang lain kebanyakan, tentu ia punya alasan untuk itu. Menarik untuk ditelusuri, tetapi bukan itu yang jadi perhatian saya. Pagi ini, untuk pertama kalinya, saya melihat ia bergerak dari tempat biasanya ia berada, berjalan melewati jembatan sungai. Saya tak tahu kemana Ibu X itu pergi dan akan terlihat aneh juga kalau saya mengikutinya dari belakang. Tidak mungkin, kan. Mungkin sesuatu telah terjadi, atau ia ingin melakukan apa, semoga suatu hal yang baik. Saya pun kembali terus mengayuh sepeda.
Satu pemandangan lagi yang tidak biasa saya temui, saya melihat pasangan kakek-nenek yang duduk di areal sawah, menghadap ke arah matahari terbit sambil berbincang. Terlihat manis meskipun ini bukan pinggir pantai atau taman kota yang berhiaskan lampu-lampu cantik. Melihat mereka, saya jadi rindu dengan kakek-kakek juga nenek-nenek sayua yang telah tiada. Juga membuat saya iri dengan romantisme kesederhanaan mereka. Ah, ya sudahlah, waktunya terus melajukan sepeda lagi.
Di perjalanan selanjutnya, saya masih melihat orang-orang lalu lalang berolahraga dengan sepedanya, bermain bulutangkis di pinggir jalan, atau sekedar berlari-lari kecil bersama anggota keluarganya yang lain. Juga sekelompok anak kecil yang berlatih tae kwon do di lapangan sebelah masjid. Semuanya terlihat penuh senyum dan tawa yang menghiasi pagi sejuk Jakarta ini. Iya, pagi biasa yang tak biasa.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment