Monday, September 30, 2013

Surat Terima Kasih



Teruntukmu,
seorang yang belum bisa disebutkan namanya.

Aku tahu.
Aku tahu bahwa aku belum cukup waktu untuk menuliskannya di sini.

But let me write down my sincerity.

Terima kasih.

Karena telah menuliskan tentangku, bahkan sejak aku tak peduli siapa kau.
Mengetuk namaku untuk pertama kali, dan menunggu hingga aku tergerak.
Tidak berpindah sedikit pun, meski kuacuhkan, sabar menatap dari kejauhan.
Tetap tersenyum, senyum yang menenangkan.

Terima kasih.

Atas dewasamu yang meneguhkan
Atas tawamu yang mencerahkan 
Atas keberanianmu untuk memulai dan berkata jujur

dan segala yang orang lain anggap sebagai hal mendayu-dayu
tapi kupikir tak apa.
Kau pantas miliki itu.


Kau dan aku mungkin sama-sama menunggu.
Menunggu satu sama lain bergerak dan berbicara.
Kau dan aku mungkin sama-sama belajar.
Belajar tidak menangisi masa lalu dan melangkah ke masa selanjutnya.
Kau dan aku yang dipertemukan, saat ini.

Alhamdulillah

Monday, September 23, 2013

Katarsis

Sungguh. Rasanya pingin menulis sesuatu untuk menetralkan isi kepala dan hati yang sedak berpihak ke satu sisi, tidak seimbang. Atau setidaknya untuk membagikan rasa bahwa di sini terlalu penuh hingga mungkin ingin tersedak (tersedak kok ingin?).

Biarkan saya menulis beberapa kata yang tak bermakna, tapi menelusuk relung jiwa raga, menembus akal nurani (pehlis, gue ngga ngikutin vickisasi). Permainan kata mungkin bisa jadi salah satu katarsis yang paling gampang untuk dilakukan saat ini. Tapi bersiaplah untuk terkena lemparan kamus besar bahasa indonesia dari para pegiat bahasa jika salah-salah pakai.

Hem.
Keberadaan kemungkinan keluarga baru agaknya membuat loncatan-loncatan kecil. Terlalu baik, terlalu manis, menyenangkan.

Semoga ini menjadi pijakan pertama untuk langkah selanjutnya yang lebih menyenangkan.



Eh.
Ngomong ape sih lu?

Classic

Okay, we're going right to the point.

Salah satu hal yang menyenangkan menjadi manusia adalah mengalami apa yang dinamakan jatuh cinta. Mengapa namanya jatuh? Mengapa tidak naik cinta? Mengapa tidak lainnya? Yes. Ini persoalan lama yang jika mengalaminya sungguh tak ada habisnya dan tak masalah jika dibahas terus menerus. Berbeda dengan pengalaman sebaliknya. Dengar kata cinta pun terasa muak.

Lanjut.

Jatuh mungkin bisa diartikan sebagai pasrah, lepas. Sehelai daun yang jatuh dari tangkainya, pasrah jatuh ke tanah, pasrah atas gravitasi yang menariknya. Jatuh itu bisa dibilang pasif. Menerima.
Jatuh cinta begitukah? Pasrah seperti terombang-ambing perasaan. Rasanya seperti terangkat jauh ke atas. Tapi nyatanya jatuh ke dalam lubang.

Jatuh.
Cinta.

Klasik. Membunuh perlahan.

fin.